Pages

Friday, 25 September 2026

Tumbang Lagi: Vertigo Menyerangku

Subuh tadi, 25 September 2026, seketika bumiku berputar lebih cepat dari biasanya. Sepertinya vertigo, batinku. Mata kucoba buka, namun pandanganku bergerak tak berirama. Melihat ke kiri, tiba-tiba tanpa kugerakkan, pandanganku beralih cepat ke kanan. Begitupun sebaliknya. 

Aku mencoba memejamkan lagi tapi tak bisa. Terpejam pun masih terasa warna hitam gelap bergerak cepat juga. Keringat tetiba menyerbak keluar sekujur tubuhku. Aneh, biasanya aku kedinginan. Mengapa ini keringatan hebat?

Aku melangkah keluar kamar. Sempoyongan. Pegangan tembok, pintu, meja, dan apapun yang bisa teraih oleh tanganku. Sampailah aku di tempat kran. Mual, tetapi tak keluar. Aku pun minum segelas air. Belum habis segelas, air yang kutelan kembali keluar disertai lendir dalam perutku. Berceceran di sekitar tempat galon. Sudah berusaha lari, tapi tak bisa. Menang muntahku daripada gerak kakiku.

Puas mengeluarkan isi perut. Aku berseancar di internet dengan bertanya ke Google mode AI. Disarankan segera ke IGD untuk mencegah kejadian November 2024 terulang lagi - kesemutan hampir seluruh tubuh. Na’uzubillahi min dzalik.

Ok, kuputuskan membangunkan suami dan memintanya mengantarku ke IGD PKU Muhammadiyah Surakarta. Menurutku, harus ke sana. Database kesehatanku di sana. 

Ketiga anakku masih tidur. Anak pertamaku, suami bangunkan agar tidak panik begitu melihat rumah kok mama & ayahnya tidak ada sekaligus memintanya menjaga adik-adiknya. 

Kami berdua, aku dan suami, pun bergegas. Mobil kunyitku melaju agak cepat dari biasanya. Beberapa bangjo kami trabas, maafkan kami. Kami hanya tak ingin mimpi buruk 2024 terulang lagi. Dalam perjalanan pun berkali-kali aku muntah. Basah celana dan jok mobilku. Biarkan.

Sesampainya di IGD, tanganku pun diinfus.

 

Infus ini untuk memasukkan cairan pereda vertigo dan jaga-jaga kalau nanti harus rawat inap, dokter tidak perlu suntik lagi. Hemat rasa sakit, pringisan.

Alhamdulillah, berangsur baik. Pandanganku yang tadinya berputar-putar seketika berhenti walaupun sempat sekali muntah setelah konsultasi dokter. Muntahan berupa lendir putih bercampur kuning. Asam lambung katanya.

Sudah, istirahat dulu di sini sembari berpikir nanti anak-anak sekolah gimana. Kami putuskan untuk memohon izin ke ustadzah anak-anak karena memang kami berdua tidak bisa mengurus mereka ke sekolah. Mau minta tolong ibuku, ternyata ibu sudah dalam perjalanan ke Njanti mau berenang bersama teman-temannya. Ya sudah, fix: sama dan suami di IGD; ketiga anakku di rumah tidak sekolah dulu.

Setelah lama menunggu, hasil observasi keluar. Saya diperbolehkan rawat jalan. Kami pun pulang. 

Sesampai di rumah, full tidur. Istirahat dan alhamdulillah membaik. Ibuku pun datang. Seperti biasa, selalu datang begitu mengetahui aku sakit. 


Yang paling aku suka dari ibu, ibu selalu mendekati anak-anakku. Menanyai kabar mereka dan larut dalam cerita. Melihat pemandangan ini, cukup menjadi obatku. Langsung sehat dong aku. Aamiin. Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin.