Pages

Saturday, 3 February 2018

Dzikir yang Terbaik

Dzikir itu bermakna menyebut dan mengingat. Menyebut saja tanpa mengingat dan sebaliknya itu tidak sempurna.


Ada 3 level dzikir, eat:
1. Mengingat, menyebut dengan mengagungkan nama Allah;
2. Mengingat tanpa menyebut. ini biasanya bagi orang yang sedang sibuk bekerja. mulutnya tidak menyebut, tetapi hatinya mengingat;
3. Menyebut, tetapi tidak mengingat.

Yang level 1 dan 2 merupakan keutamaan dzikir. yang ke-3, bukan. Lantas, kapan kita berdzikir? Dzikir itu tidak memandang waktu dan tempat. kapan pun dan di manapun. Jangan membatasi dzikir pada masjid saja, sehingga kadang di tempat kerja lupa bahwa Allah ada untuk selalu mengawasi. Di masjid baik, di kantor bersikap kurang baik.

Kalau semua profesi berdzikir, maka tidak akan ada lagi yang berani berbuat dzolim. Dosen, misalnya. Saya menyebut dosen karena kebetulan profesi saya dosen. jika setiap dosen berdzikir, maka tidak akan lagi datang terlambat dan pulang awal.
Dengan demikian, dzikir itu memang benar-benar dilakukan setiap saat agar aktivitas kita mencerminkan diri kita yang sesungguhnya, sesungguhnya sebagai hamba Allah SWT. 

(Tulisan ini penulis ringkas dari kajian Ustadz Abdul Shomad)


Wednesday, 31 January 2018

"Dilan" yang Sesungguhnya

Aku ingat betul kala kamu hendak menghabisi Anhar setelah kamu tahu bahwa dia refleks menampar Milea. Aku langsung teringat suamiku yang juga melakukan hal yang sama terhadapku. Bedanya, kamu dengan fisik, sedangkan dia tidak. Mungkin karena faktor usia. Kalau saja kejadian itu sama, mungkin juga akan dilakukan oleh suamiku. Sayangnya, tragedi itu terjadi saat kami sudah berumah tangga dan yang menyakitiku adalah rekan-rekan kerjaku. Suamiku pasang badan cukup dengan berdialog dan berdiskusi dengan rekan-rekan kerja yang bagi mereka harus ada perpeloncoan pada pegawai baru. Dan saya pegawai barunya. Na’as!

Hebat! Kamu dan suamiku sama-sama hebat. Tidak terima jika yang disayangi tersakit. ini benar-benar membenarkan tentang kalimat “Jangan pernah bilang siapa yang menyakitimu karena dia akan hilang!’. Kalimat itu benar nyatanya. Yang menyakitiku benar-benar hilang, hilang dari kehidupanku dengan caraku, yaitu meninggalkan dunia kerja yang berbudaya ngawur. Ya, ngawur! Mana ada budaya mengerjai pegawai baru dengan alasan supaya akrab. Ngawur kan?

Saturday, 27 January 2018

Masih Saja Membisu

Sayangnya, aku terlalu mandiri. Memikirkan, menjalankan, dan mengevaluasi sendiri. Sebenarnya aku punya partner hebat, tapi miskin empati. Partner yang konon katanya 99% logika, nyatanya kalah dari setiap fenomena. Kadang, aku bertanya dalam luka. Apa semua yang kurasa juga dirasa oleh makhluk yang sama?

Aku bingung memulai dari mana sementara perjalanan tak mungkin dihentikan. Tanggung jawab semakin banyak dan berat. Setiap hal memiliki masalah yang tak semestinya kubuat pecah. Harus diselami, dimengerti, dan diberi solusi. Ternyata masalah bukan hanya tentangmu. Kalau hanya memikirkanmu, bagaimana dengan waktuku? 

Rapuh, aku terlalu rapuh. Ayat-ayat kitab suci yang kuagungkanlah yang menjadikan rem di permulaan emosi. Terlalu naif disampaikan, cukup hanya dipendam. Terlalu bahaya dibicarakan, cukup hanya dituliskan. Aku takut kekuatan ini padam seiring datangnya malam. 

Monday, 25 December 2017

Perlunya Saling Bicara

Setiap pasangan pasti memiliki kehidupan yang berbeda. Ada yang statis, ada yang dinamis. Apa pun itu, perlu adanya evaluasi rutin untuk melanggengkan hubungan hingga “akhir zaman”, di mana hubungan tak akan lagi bisa diperpanjang.
Komitmen yang sudah dibentuk sudah seharusnya dirawat hingga hubungan tak lagi hanya sekedar pencitraan. Merawat komitmen bias dilakukan dengan adanya keterbukaan informasi, sehingga setiap anggota pasangan mengerti apa yang sedang terjadi pada “kapal”-nya. Perlu adanya pembicaraan dan pengungkapan perasaan hingga antaranggota pasangan bisa saling merasakan apa yang sesungguhnya sedang dialami teman hidupnya. Jika sudah bisa saling merasakan, harapannya akan timbul simpati hingga empati sampai mati.
Pada kondisi yang ideal, disebut pasangan jika dia dan pasangannya saling menyerahkan diri luar dalam. Sebaliknya, pada kondisi yang tak ideal adalah ketika orang hanya cenderung ingin menikmati pasangannya secara lahiriah saja. Kalau sudah menikmati, ya sudah, enggan bercerita enggan berkata-kata. Bahkan, ada orang yang tak tahu tentang sejatinya pasangannya. Yang penting dia sudah melakukan yang sewajarnya, sesuai perannya. Bahkan, ada yang berprinsip tentang pasangannya itu sesuatu yang bukan ranah dan wewenangnya. Ini jelas bukan kondisi yang diharapkan. Yang namanya pasangan, bukan hanya mau melepas baju secara fisik, melainkan secara batin juga.
Pria dan wanita itu diciptakan berbeda. Secara lengkap, bisa kita simak dalam kajiannya dr. Aisyah Dahlan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan yang di sana dijelaskan secara detail secara ilmu kedokteran. Karena berbeda, maka perlu disamakan untuk menunjang visi dan misi pasangan. Kadang, sesama jenis saja banyak perbedaan, apalagi yang berbeda jenis. Memang perlu banyak berbicara, meluangkan waktu walaupun hanya beberapa menit saja. Sewaktu mau tidur misalnya, bias diisi dengan ngobrol ringan menceritakan apa saja yang telah terjadi tadi dan yang akan dilakukan besok.
Cinta itu mendekat. Kalau cinta, pasti mendekat. Bukan mendekatnya waktu butuh saja. Kapan pun di mana pun, pasti mendekat. Itulah cinta. Kalau tidak demikian, berarti bukan cinta. Logis.

Friday, 22 December 2017

You Will Never Walk Alone

Aku merindumu, sungguh sangat rindu. Sudah hampir tiga tahun aku tak tahu kabarmu. Mungkin aku terlalu bodoh dengan tetap kekeuh menjaga namamu di hatiku di saat beberapa insan lain menginginkanku. Aku ingin move on, tapi dengan sinyalmu. Cukuplah kamu mengetik "y" atau berkata "ya" dari smartphone-mu. Nyatanya, tak semudah itu bagimu dan kamu memilih tetap membisu. Kau gantung aku hingga aku bingung.

Dari kecil, setiap apa pun yang kukejar, aku dapatkan. Baik dengan rencana pertama atau dengan rencana tambahan. Namun, tidak untuk kali ini, beda dengan jalan perasaan ini. Kau mengubah targetku meleset. Kau rubah mimpi jadi api. Panas hati ini. Kau hambat perasaanku menuju ruang terindah di hidupku. Aku ingin kau pastikan saja, bukankah itu mudah.

Sedih, tiap hari-hariku diselimuti rasa was-was. Tak sedetik pun aq melewatkan hp dari genggamanku. Mungkin aq terlalu berbaik sangka kepadamu hingga segitunya aku memikirkanmu. Apakah kau di sana juga memikirkanku?

*cuplikan novel perdana. Tunggu tanggal mainnya ya....

Friday, 15 December 2017

Pendidikan Abad 21


"Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan pada zamanmu" (Ali bin Abi Thalib)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa memang kita harus mendidik anak-anak sesuai dengan zamannya. Dan zaman sekarang itu, zaman now-nya abad 21 yang memiliki karakteristik, yaitu:
1. Era digital, bahasa digital. Pendidik harus belajar secara inklusi
2. Belajar dengan cara yang berbeda. Fungsi guru harus berubah menjadi memfasilitasi potensi anak.
3. Lingkungan berskala global. Sekarang kemungkinan besar anak-anak berkomunikasi dengan orang luar negeri.
4. Tidak memiliki karir tetap dan tunggal, gantinya akan memiliki lintasan kerja dengan beberapa karier. Implikasinya, tiap orang harus punya nilai plus. Lulusan apa, harus bisa bekerja di luar apa yang diajarkan dari di mana dia belajar.

Dalam hal pendidikan, berkacalah dari pendidikan Jepang. Di sana, siswa dan mahasiswa dekat dengan jurnal. Bahkan, sampai lupa pulang hingga pak bon di sana berkeliling memantau kepulangan siswa dan mahasiswa.

Kalau di Indonesia, ada kelas yang namanya Harmoko (Hari-hari Omong Kosong), sedangkan di Jepang, mana ada? Jam 8 guru/ dosen datang, tidak lagi ada yang bermain-main di luar. Oleh karena itu, pendidika harus memainkan peran yang maksimal untuk kejayaan pendidikan ke depan.

Dalam dunia pendidikan, dikenal adanya tiga aspek penilaian (kognitif, afektif, dan psikomotor). Ketiga aspek tersebut harus dijalankan bersama-sama dalam pembelajaran. Misalnya, guru meminta anak-anak untuk melingkar kemudian berpindah tempat dalam satu lingkaran tersebut, tetapi tidak boleh berjalan dan berlari. Alhasi, ada siswa yang merangkak, menggelinding, lompat, dsb. Dari kegiatan tersebut diperoleh tiga hal: siswa berpikir bagaimana dia bergerak (kognitif), dia tetap berlaku baik (afektif), dan melakukan gerakan tersebut (psikomotor)

Memang pendidikan zaman now harus dipikirkan secara matang. Kalau sudah begini, nyata pentingnya adanya perencanaan pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sehingga diperoleh pembelajaran yang sesuai zamannya. Adapun konsep pendidikan Abad 21: (Jenifer)
1. Pengajaran yang berpusat pada siswa
2. Pembelajaran yang kolaboratif
3. Pemilih seni, seni untuk pengembangan
4. Sekolah harus milik lingkungannya, menjadi menerangi lingkungannya

Terakhir, bisa kita tarik kesimpulan dari pendidikan abab 21 ini adalah:
1. Pembelajaran sudah melibatkan aspek kognitif tingkat tinggi, yaitu analisis,msintesis, evaluasi, dan kreativitas
2. Sekolah berkolaborasi dengan masyarakat
3. Taksonomi bloom harus diterapkan secara bersama-sama dan berintegrasi dengan aspek yang lain

*) Tulisan ini disusun berdasarkan materi yang disampaikan oleh Prof. Furqon Hidayatullah, M.Pd., selaku direktur Pascasarjana UNS yang juga merupakan pembicara pada seminar nasional Forum Mahasiswa Muslim Pascasarjana UNS pada hari Jum'at, 15 Desember 2017

Penelitian yang Memberikan Dampak yang Baik bagi Orang Banyak

Saat ini kita berada pada zaman kreatif. Penelitian pun demikian. Penelitian yang kreatif itu digalakkan demi pembangunan yang berkelanjutan. Setiap hal yang berbau kreatif selalu dihubungkan dengan pemuda. Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan generasi muda?

Indonesia itu pangsa pasar terbesar di Asia Tenggara. Zaman start up pun, sebagian besar bangsa Indonesia pun menggunakan start up, tetapi banyak start up bukan produk indonesia, adapun hanya sedikit. Lazada dan shopee misalnya. Kedua pasar online terbesar itu milik singapura. Yang Indonesia? Ada, Bukalapak. Yang lain? Ada juga, tapi tak setenar Bukalapak.

Berpikir itu memberikan solusi, bukan sekedar mengkritisi. Kalau dulu, zamannya demo. Kita turun ke jalan meneriakkan hal-hal yang kita inginkan. Sekarang, zamannya digital, demo lewat tulisan dan gambar. Beda zaman, beda perlakukan. Memang, zaman sudah berubah.

Menyampaikan solusi yang elegan, bisa melalui penelitian. Itu dari segi akademis. Lantas, bagaimana cara menggali ide penelitian? Mudah saja. Pikirkan tentang: Apa masalah saat ini? Apa solusinya? Bagaimana merubah hal yang sulit jadi mudah?

Penelitian itu berani mengeksekusi ide dan belajar dari kesalahan eksperimen. Gojek misalnya. Awalnya, gojek hampir bangkrut, apakah kemudian menyerah? Tidak. Ternyata gojek tidak menjual fasilitas jasa pengiriman, tapi dia menjual data pengguna gojek yang digunakan oleh para pelaku bisnis dalam melihat pangsa pasar. Sekarang, banyak investor yang melirik gojek hingga gojek kembali eksis dan makin solutif untik masyarakat sekitar. Tepatnya, menjadi solusi bagi pengguna transportasi umum dan pemilik motor yang nganggur.

Dari serangkaian penelitian, penelitian jenis eksperimen pasti menghasilkan produk. Setelah menghasilkan produk, langkah selanjutnya adalah mempromosikan hasil eksperimen dan personal branding. Itu jelas membutuhkan dana. Lalu, jika tidak punya dana, maka cukup hanya menggunakan media sosial. Kegiatan prokosi harus jujur, jangan seperti ilmuwan yang dulu pernah dicap orang sebagai pengganti habibie yang ternyata hanya kebohongan semata. Akan tetapi, belajar dari kebohongan tersebut, ini bisa jadi diambil pelajaran. Yang tidak sesungguhnya saja bisa membuat orang percaya, apalagi yang sesungguhnya. Jujur lebih baik, lebih baik jujur.

Penelitian sebenarnya kegiatan terus menerus dari masa ke masa yang mengunggulkan orisinalitas, kebaruan, manfaat, dan fokus pada topik tertentu. Misalnya, James Watt yang dia selalu berkutat pada topik kelistrikan.

Ada yang bingung bagaimana cara memulainya? Penelitian itu dimulai dari pembuatan proposal penelitian (riset) baik untuk perlombaan, hibah riset, dan untuk studi lanjut. Ada beberapa tips agar proposal riset kita diterima.
1. Lakukan penelitian yang anda sukai
2. Ikuti peraturan yang ditetapkan/ ikuti track record profesor (jika mau studi lanjut)
3. kontinyu antarparagraf, antarpragraf harus nyambung
4. Bahasa terukur dan referensi 10 tahun terakhir
5. Reviu proposal sebelum dikirim

Di dalam proposal riset, penyusunan judul harusnya menarik, tidak terlalu pendek, tidak terlalu panjang, dan mudah dibaca. Untuk kasus tertentu, bagi profesor luar negeri misalnya, kearifan lokal lebih menarik karena di luar negeri tidak ada. Hal ini sejalan dengan novelty (kebaruan) yang merupakan salah satu pertimbangan diterimanya proposal riset selain orisinal, scientific (ada dasar ilmiah), dan penggunaan metode yang tepat.

*) Tulisan ini penulis sarikan dari presentasi Firman Alamsyah, Ph.D. dosen UGM, selalu pembicara pada rangkaian acara di seminar nasional Forum Mahasiswa Muslim Pascasarjana UNS pada hari Jum'at, 15 Desember 2017.