Beasiswa itu suatu hal yang sangat nikmat. Nikmatnya ada dua sisi: internal dan eksternal. Secara internal, kebutuhan akan pendidikan akan tercover baik sebagian besar maupun keseluruhan. Secara eksternal, ada sebuah pretige yang akan melekat pada penerima beasiswa tersebut. Ada kebanggan, ada kesenangan, dan ada sejarah yang takkan pernah terlupa.
Hidupku, hidupmu, dan hidupnya jelas berbeda. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Setiap orang boleh punya rencana yang sama, tetapi pencapaiannya jelas berbeda. Setiap orang boleh bermimpi, berencana, dan berusaha menerima beasiswa, tetapi tidak setiap orang bisa mendapatkannya. Beasiswa itu seperti harta karun di mana sebagian besar orang menginginkan dan memperjuangkannya, tetapi hanyalah orang yang beruntung yang mendapatkannya.
Mimpiku sudah tercapai: mendapatkan beasiswa sedari SMP hingga S2. SMP dan SMA, beruntungnya aku mendapatkan beasiswa dari Yayasan Al Islam gegara pencapaian prestasi secara paralel, juara 5 besar satu angkatan. Selepas sekolah, beasiswa pun masih melekat dalam keseharianku selama mengenyam pendidikan. S1-ku sebagian besar tercover oleh beasiswa dari Dikti jenis Peningkatan Prestasi Akademik, sedangkan S2-ku oleh beasiswa dari Kementerian Luar Negeri. Menyenangkan bukan?
Itu masa laluku. S2 selesai tahun 2014. Jadi, sudah hampir 3 tahun tak bersilaturrohiim dengan yang namanya beasiswa. Rasanya rindu. Dan sepertinya rinduku akan terjawab. Pagi tadi, ibu mengiyakan pengutaraan keinginanku untuk lanjut S3. Alhamdulillah, pihak keluarga mendukung. Kini, giliranku untuk kembali berjuang merealisasikannya. Allah, bersamaiku di setiap langkah ya... Aamiin.
(Helti Nur Aisyiah, Pemburu Beasiswa)
Saturday, 18 November 2017
Wednesday, 8 November 2017
Ojek Online yang Disayang dan Ditendang
Kalau bisa dipermudah, mengapa harus
dipersulit? Prinsip inilah yang dijalankan oleh pengusaha ketika akan melakukan
pendekatan pada calon pelanggan. Bagi pemilik usaha atau minimal marketing
perusahaan, masyarakat adalah calon "kekasih". Dengan demikian,
pengusaha berpikir tentang bagaimana caranya memikat calon konsumen agar
tertarik untuk menggunakan barang atau jasa perusahaan.
Rupanya gaya memudahkan calon
pelanggan sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh setiap pelaku usaha. Salah
satunya adalah gojek. Hanya dengan genggaman tangan, touch aplikasi dari play store atau appstore , seseorang bisa
dengan mudah memanggil ojek di manapun dia berada. Namun, pedekate yang mulai memikat warga Solo ini mengalami banyak hambatan.
Dari mulai ungkapan keberatan hingga aksi bentrok yang nyata-nyata menolak
keberadaan gojek di area Solo.
Memahami konflik kepentingan antara
ojek online dan mode transportasi lainnya, sebenarnya ini sudah hal yang umum
dan pernah terjadi di masa lalu. Sebut saja taksi dan ojek non online yang saat
ini secara terang-terangan menolak adanya gojek sebenarnya juga menggeser mode
transportasi tradisional di masa lalu. Bedanya, kita sekarang ada di era
digital, sehingga apa saja yang dikeluhkan bisa langsung viral.
Kalau kita berselancar di media
sosial, banyak komentar pro dan kontra tentang keberadaan gojek. Komentar pro
notabene dilontarkan oleh para pelanggan gojek yang sudah mulai terpikat dengan
fitur layanan yang serba memudahkan konsumen, sedangkan komentar kontra
disampaikan oleh masyarakat yang empati terhadap nasib pelaku mode transportasi
yang merasa tersaingi oleh gojek. Sangat disayangkan jika kondisi ini hanya
sebatas komentar-komentar di media online maupun offline. Sebaiknya ada yang menampung
aspirasi warga melalui komentar-komentar tersebut.
Dalam kesempatan yang lalu, walikota
Solo membuat sebuah kebijakan ekonomi yang menyatakan bahwa gojek hanya
diijinkan beroperasi dalam pengangkutan barang, bukan penumpang. Namun,
sepertinya apa yang disampaikan walikota hanyalah angin lalu. Kondisi ini
dibuktikan dengan masih adanya gojek yang mengangkut penumpang.
Kalau kita membuka laman demi laman
dalam aplikasi gojek, pengiriman barang hanyalah fitur tambahan yang diberi
nama "go-send" untuk barang
dan "go-food" untuk
makanan. Dari kedua fitur tersebut, sepertinya go-food paling diminati. Fitur ini terbukti mampu menaikkan omzet
penyedia makanan. Bahkan, ada restoran yang menyarankan menggunakan go-food saja dengan alasan antrian
panjang jika makan di tempat. Dan memang benar, ada jalur khusus untuk pemesan
makanan via go-food. Ini sisi lain salah satu fitur gojek yang menarik. Namun
sejatinya, fitur yang paling utama memang mengangkut penumpang. Jika yang utama
dihapuskan, maka akan menghilangkan esensi dari gojek itu sendiri.
Mari Berdamai
Masing-masing lapisan masyarakat
pastinya sudah menunggu win-win solution
dari pemerintah daerah (pemda) agar konflik kepentingan tidak berlarut-larut.
Apalagi, ini menyangkut kehidupan ekonomi masyarakat yang sedang memanas,
terutama para lakon (transportasi online dan offline). Sudah bisa dipastikan
bahwa masyarakat Solo merindukan kedamaian dalam melakukan aktivitas ekonomi.

news.idntimes.com
Dalam situasi ini, sebaiknya pemda
benar-benar menjadi penengah. Bukan hanya pada satu elemen masyarakat saja
melainkan harus mencakup semua lapisan. Ditambah lagi, tidak hanya orang Solo
saja, melainkan orang perantauan yang kebetulan sedang menempuh studi, bekerja,
dan urusan lainnya yang mengharuskan mereka untuk tinggal di sini.
Mengakhiri konflik tidak cukup hanya
dengan mendatangkan kedua belah pihak, ojek online dan offline. Pemda hendaknya
juga melibatkan masyarakat baik yang pro maupun kontra dengan adanya gojek.
Untuk efisiensi, bisa dilakukan dengan
survey. Tentunya, ditujukan kepada
semua kalangan. Kalaupun harus memakai sampel, harus dipilah seobjektif
mungkin. Hal ini dikarenakan oleh sesuatu yang kita anggap sepele bisa jadi
sangat berarti bagi kalangan tersebut. Kepentingan masing-masing pihak berbeda,
tergantung dengan sudut pandang.
Cara paling mudah dalam melakukan survey adalah dengan menggandeng salah
satu penyedia layanan komunikasi dan lembaga riset. Penyedia layanan komunikasi
(provider) diikutkan untuk proses yang cepat, sedangan lembaga riset untuk
hasil yang tepat. Ini seperti e-voting,
tetapi bukan sekedar menjawab setuju atau tidak, melainkan juga bisa ditambahi
alasan yang logis.
Setelah data diperoleh, interpretasi
data hendaknya dilakukaan oleh profesional yang tidak memiliki kepentingan.
Dengan demikian, solusi yang terbentuk dari hasil survey benar-benar murni dari aspirasi warga Solo pada khususnya
dan warga perantauan pada umumnya.
Tulisan ini dimuat di UC News tanggal 17 Oktober 2017
~ Helti Nur Aisyiah ~
Tulisan ini dimuat di UC News tanggal 17 Oktober 2017
~ Helti Nur Aisyiah ~
Sunday, 29 October 2017
Kekasih Bayangan
Aku berhutang padamu, Malam
Kamu mengantarkanku pada pagi, siang, sore, hingga ketemu kamu lagi
Malam, jangan kau ajariku tentang cinta sementara aku belum tau apa itu cinta
Cukup kau peluk aku dalam kedinginan hingga aku menggigil dan merindui cinta yang akan kau ajarkan
Aku berhutang padamu, Malam
Aku tak sepenuhnya untukmu
Kupercepat waktuku denganmu dengan ketakutan
Maafkan aku yang selalu diselimuti rasa pilu hingga aku lupa ada kamu, kamu yang selalu ada di setiap aku tak ada siapa-siapa
Terimaka kasih, Malam
Setidaknya aku tak pernah merasa sepi
Kalau saja kau jahat, mungkin kau tak lagi denganku
Aku terlalu fokus pada keinginan, bukan pada bagaimana aku bisa bertahan menikmati setiap detik perjalanan
Tanpamu aku hanya suratan yang dilanda sepi dan rindu
(Di suatu malam di rumah yang makin baru, 28 Oktober 2017)
Kamu mengantarkanku pada pagi, siang, sore, hingga ketemu kamu lagi
Malam, jangan kau ajariku tentang cinta sementara aku belum tau apa itu cinta
Cukup kau peluk aku dalam kedinginan hingga aku menggigil dan merindui cinta yang akan kau ajarkan
Aku berhutang padamu, Malam
Aku tak sepenuhnya untukmu
Kupercepat waktuku denganmu dengan ketakutan
Maafkan aku yang selalu diselimuti rasa pilu hingga aku lupa ada kamu, kamu yang selalu ada di setiap aku tak ada siapa-siapa
Terimaka kasih, Malam
Setidaknya aku tak pernah merasa sepi
Kalau saja kau jahat, mungkin kau tak lagi denganku
Aku terlalu fokus pada keinginan, bukan pada bagaimana aku bisa bertahan menikmati setiap detik perjalanan
Tanpamu aku hanya suratan yang dilanda sepi dan rindu
(Di suatu malam di rumah yang makin baru, 28 Oktober 2017)
Saturday, 19 August 2017
Wanita Pelawan Ego
Hebat benar anak-anak itu
Mampu merubah hidupku
Hidup yg teratur, seiring semangat yg tak pernah kendur
Siapakah anak-anak itu?
Cukup jelas! Dia anak-anakku
Tabiatku betubah total karena dia dan dia
Dia, anak pertamaku
Dia, anak keduaku
Dua, anak kesayanganku
Aq menjelma luar biasa
Luar biasa, bukan biasa di luar
Dulu dikit-dikit keluar
Pergi pagi pulang malam
Demi apa tho?
Demi ego!
Kini, juluki aq sebagai wanita pelawan ego
Tak bisa lagi pergi tanpa kompromi
Walau terkekang, aku senang!
Ditulis di Royal Water Adventure Sukoharjo pukul 09.51 sambil menunggui anak pertama dan suami yang asyik berenang.
Mampu merubah hidupku
Hidup yg teratur, seiring semangat yg tak pernah kendur
Siapakah anak-anak itu?
Cukup jelas! Dia anak-anakku
Tabiatku betubah total karena dia dan dia
Dia, anak pertamaku
Dia, anak keduaku
Dua, anak kesayanganku
Aq menjelma luar biasa
Luar biasa, bukan biasa di luar
Dulu dikit-dikit keluar
Pergi pagi pulang malam
Demi apa tho?
Demi ego!
Kini, juluki aq sebagai wanita pelawan ego
Tak bisa lagi pergi tanpa kompromi
Walau terkekang, aku senang!
Ditulis di Royal Water Adventure Sukoharjo pukul 09.51 sambil menunggui anak pertama dan suami yang asyik berenang.
Thursday, 27 July 2017
Trik Ng-iklan yang Bikin Customer Nggak Bisa Menghindar
Sepertinya
akan jarang terdengar ucapan “Nunggu jeda iklan dulu ya….” sebagai kode
seseorang akan melakukan aktivitas di sela-sela program acara televisi atau
hanya sekedar mengganti channel untuk
menghindari iklan-iklan. Kini, konsumen sudah mulai merasa lebih sulit untuk
menghindari pesan komersil tersebut. Nampaknya pengiklan sudah mulai lihai
memainkan strategi dalam hal memikat konsumen.
Bagi
penikmat sinetron, pasti sudah hafal strategi iklan yang sedang marak saat ini.
Iklan tidak lagi ditempatkan dalam space
tersendiri, melainkan include dalam
alur cerita. Bahkan, pada sosialisasi sinetron dalam sebuah stasiun televisi
swasta jelas-jelas menyebutkan bahwa program acara tersebut akan tayang tanpa
jeda iklan. Kebijakan manajemen media tersebut jelas sangat memanjakan para
penikmat program acara televisi.
Sebenarnya
dibalik iming-iming tanpa atau iklan
dalam jumlah minimal, tetap ada kecenderungan penonton untuk tidak bisa lepas
dari iklan. Dalam beberapa sinteron, mau tidak mau, penonton akan tetap melihat
dan menikmati konten iklan, tetapi secara tersirat. Salah satu contoh
penempatan iklan tersirat yang paling dominan bisa dilihat pada adegan kumpul
bersama antartokoh yang kemudian mengeluarkan produk tertentu untuk dimakan
atau diminum bersama. Strategi lainnya, percakapan dalam sebuah adegan sengaja
dilakukan di bawah baliho yang di sana sudah menayangkan iklan produk tertentu.
Kalau sudah begini, bagaimana bisa menghindar dari iklan. Dulu yang biasanya sambat, sekarang harus mulai bersahabat.
Dalam
dunia media, iklan yang tersirat pada alur cerita dinamakan product placement, yaitu suatu kegiatan
yang bertujuan untuk berpromosi dengan cara menempatkan secara aktif maupun
pasif atribut produk seperti logo, merek atau nama perusahaan dari suatu barang
atau jasa ke dalam alur cerita film atau acara televisi lainnya (Subari, 2012:
11). Strategi menempatkan iklan dalam alur cerita tersebut bisa dikatakan
sangat menarik. Apalagi, diperankan langsung oleh para aktor dan aktris yang
sudah terbiasa menjiwai karakter beberapa tokoh, sehingga diharapkan mampu
benar-benar menjalankan fungsi persuasi iklan, yaitu mengajak penonton untuk
juga bisa menikmati produk yang diiklankan di dunia nyata. Seperti makna iklan
yang sebenarnya, yaitu pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada
masyarakat lewat suatu media (Kasali, 1995: 9).
Dalam
menawarkan pun sudah semestinya menggunakan teknik komunikasi yang kreatif,
sehingga tepat sasaran, konsumen terkesan, dan tidak membosankan. Apalagi,
memang iklan tersirat ini memang tidak seharusnya terlihat sedang beriklan,
melainkan hanya samar-samar. Widyatama (2011: 43) mengatakan bahwa dalam
memperkenalkan barang atau jasa bisa dilakukan tanpa ada unsur memaksa atau
membujuk untuk membeli atau menggunakan. Dengan demikian, perlu adanya rencana
yang sistematis untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Iklan
dalam sinetron yang sedang marak saat ini sebenarnya bukan hal yang baru,
melainkan sudah ada pada sinetron sebelumnya, misalnya Para Pencari Tuhan Jilid
5 (2011), Binar Bening Berlian (2011), dan Aliya (2012). Selain melanjutkan dan
menyemarakkan strategi yang sudah ada sebelumnya, iklan dalam sinetron juga
sebagai hasil adopsi dari dunia perfilman. Kalau lihat film Di Bawah Lindungan
Ka’bah (2011) dan Habibie Ainun (2012), pasti ingat iklan apa saja yang
tersirat dalam film tersebut. Itu baru beberapa film nasional yang disebutkan,
belum film skala internasional.
Selain
sinetron dan film, iklan tersirat juga bisa terlihat dalam kuis yang
mensponsori sinetron dan program acara infotainment.
Kita bisa menghindari iklan dalam kuis dan infotainment
yang diperankan oleh artis, tetapi tidak bisa pada sinetron dan film. Hal
ini dikarenakan jika ingin tahu alur cerita, maka memang harus stand by melihat dari awal hingga akhir
yang di sela-sela adegan disisipi iklan.
Cerdas
Beriklan
Persaingan
bisnis yang makin ketat menuntut para pengusaha, termasuk marketing untuk
memutar otak dalam hal menarik hati calon konsumen agar mau menggunakan
produknya. Normalnya, orang akan jenuh dengan rentetan iklan yang panjang dan
lama. Bahkan, dahulu ada durasi iklan melebih durasi program acara inti.
Artinya, jika seseorang tidak berganti channel,
penonton akan menonton iklan lebih lama dari pada alur cerita pada sinetron.
Ini bisa dijumpai pada sinetron yang memiliki rating tinggi.
Biasanya,
semakin tinggi rating, semakin banyak
iklan yang ditawarkan. Akan tetapi, jika semakin banyak iklan, maka penonton
pun akan terganggu. Dengan keadaan yang dilematis ini, nampaknya product placement menjadi solusi tepat
bagi para pengiklan dan penikmat produk cerita visual, sinetron. Penonton akan
dimanjakan dengan cerita yang lebih lama dan pengiklan juga bisa tetap
menyampaikan pesan perusahaan tentang produknya.
Pada
prosesnya, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Ini wajar, tetapi product placement ini menjadi
pundi-pundi baru bagi produser untuk menutup biaya produksi dan promosi.
Seperti diketahui bahwa iklan memang salah satu sumber penghasilan bagi sebuah
sinetron.
Ke
depannya, akan banyak benchmarking
dari iklan tersirat dari jenis sinetron ini. Bahasa mudahnya, benchmarking bisa diartikan sebagai
meniru kinerja perusahaan pesaing. Benchmarking
bisa dilakukan dengan mengadopsi teknik pada perusahaan yang sama atau berbeda
jenis. Strategi product placement
dalam sinetron A bisa diterapkan pada sinetron B atau media yang berbeda,
misalnya cerita dalam radio atau bahkan film dalam youtube yang sekarang sedang kekinian.
Jika
melihat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan menjamurnya virus
kewirausahaan yang menjadikan setiap orang bisa jualan, sudah sepantasnya
setiap penjual mulai jeli dalam menentukan strategi pemasaran. Buat apa barang
atau jasa banyak dihasilkan, tetapi tidak terdistribusikan. Jadi, perlu adanya
strategi pemasaran dengan hasil yang signifikan. Setiap pemilik usaha harus
pintar mencari celah agar calon konsumen tidak risih dengan iklan yang
dipasang. Jika ini terealisasikan, maka tercapai win-win solution: konsumen nyaman, pesan pemasaran tersampaikan.
Tulisan ini terbit di media UC News tanggal 15 Oktober 2017
~ Helti Nur Aisyiah ~
Tulisan ini terbit di media UC News tanggal 15 Oktober 2017
~ Helti Nur Aisyiah ~
Saturday, 1 July 2017
Nasionalisasi Ekonomi
Pasca mendengar pidato dari
Presiden di momen Hari Kesaktian Pancasila, 1 Juni 2017, banyak yang ikut
menyuarakan “Saya Indonesia, Saya Pancasila” dengan lantang. Saya sangat
terkesima dengan pilihan kata dalam pidato Bapak Jokowi. Indah sekali. Dalam
tataran pragmatik, kalimat tersebut secara tidak langsung mampu membangkitkan
kembali siapa jati diri bangsa ini, mampu mengembalikan dan meningkatkan
kecintaan warga terhadap negaranya. Apalagi, pidato tersebut diucapkan di
sela-sela kondisi Indonesia yang sedang “ramai” akhir-akhir ini.
Sebagai insan yang bergelut di
bidang ekonomi, tentunya tergelitik untuk juga memikirkan bagaimana mengaplikasikan
kalimat “Saya Indonesia, Saya Pancasila” ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
tidak hanya di mulut saja. Sejatinya, setiap bangsa Indonesia akan kembali
nasionalis tingkat tinggi setelah ada ‘benturan’ yang mengganggu keharmonisan
bangsa. Bahkan, tingkat nasionalisnya akan lebih tinggi.
Berbeda dengan konsumen, jika produsen
menghindari produk-produk luar negeri, itu akan menjadi langkah yang kurang
tepat. Alangkah baiknya produsen tersebut mendekati produk-produk tersebut,
terutama yang diminati oleh masyarakat. Pendekatan dilakukan dengan tujuan
riset, untuk mengetahui bagaimana respon masyarakat terhadap produk tersebut
dan mengapa masyarakat bisa ‘jatuh hati’ pada produk tersebut.
Dengan adanya riset, produsen
dapat menentukan langkah selanjutnya dalam memproduksi barang yang minimal sama
dan maksimal mampu melebihi dari kualitas barang tersebut. Di sinilah peran inovasi.
Inovasi pada level terendah dapat menggunakan jurus ATM, yaitu Amati, Tiru, dan
Modifikasi. Namun, untuk ke depannya, diharapkan bisa dilakukan inovasi pada level
menengah hingga tinggi yang mengedepankan hal-hal yang baru, bukan hanya
menyajikan yang beda.
Satu lagi pelaku kegiatan
ekonomi selain konsumen dan produsen adalah distributor. Peran pelaku strategis
ini dalam nasionalisasi ekonomi bisa menyalurkan hasil produksi tidak hanya di
wilayah Indonesia saja, melainkan ke seluruh dunia. Apalagi, sekarang sudah
masuk era globalisasi dan teknologi informasi. Cukup dengan membuka smartphone, dunia ada di genggaman kita,
artinya kita sudah bisa berinteraksi dengan siapa pun dan di mana pun, termasuk
masyarakat luar negeri.
Inilah maksud nasionalisme
yang sesungguhnya, yaitu bagaimana kita berkiprah untuk Indonesia pada ranahnya
masing-masing. Namun, bertindak pun tidak dengan sekadarnya, melainkan dengan
cerdas dan penuh persiapan, sehingga ouput
dan outcome dari apa yang diusahakan maksimal.
Ketiga, beradaptasi dengan
teknologi. Teknologi yang makin hari makin banyak baiknya dipelajari dan
dimanfaatkan untuk keperluan analisis produk dan pemasaran. Namun, kemampuan
mengoperasikan teknologi bukan hal yang mutlak. Artinya, cukup dengan bekerja
sama dengan rekanan yang ahli di bidang teknologi informasi untuk merealisasikan
konsep yang dingikan.
Keempat, mempelajari regulasi
antarnegara. Untuk melakukan kegiatan yang lebih luas lagi, alangkah baiknya
memperdalam keilmuan tentang syarat dan proses distribusi antarnegara akan
seperti apa. Harapannya, konsep akan sesuai dengan kondisi real baik negara
asal maupun tujuan ekspor.
Jika barang dan jasa dari
Indonesia sudah benar-benar mampu merajai dunia, timbullah rasa puas dan bangga
akan identitas diri sebagai bagian dari Indonesia. Kesungguhan berkegiatan
dengan landasan kecintaan kepada Indonesia, maka nasionalisme itu pun akan
terwujud dengan sendirinya. Sekali lagi, “Saya Indonesia, Saya Pancasila”.
(Helti Nur Aisyiah)
Ramadhan: Gairah Kewirausahaan
Memang, Ramadhan itu ajang meningkatkan
kualitas ibadah, bukan kuantitas pengeluaran. Namun, jika kita kaitkan antara
“ibadah” dan “pengeluaran”, akan menjadi hal yang sama dalam hal sedekah, yaitu
pengeluaran yang bernilai ibadah. Sedekah di luar Ramadhan saja rutin, apalagi
di Bulan Ramadhan yang jelas-jelas pahalanya berlipat ganda, sehingga orang
akan cenderung memperbanyak sedekah di Bulan Ramadhan. Dengan demikian,
banyaknya permintaan akan barang atau jasa, bukan hanya dari konsumen yang langsung menikmati barang
atau jasa, melainkan juga konsumen yang membeli barang atau jasa untuk
keperluan sedekah.
Permintaan akan barang atau
jasa pada Bulan Ramadhan mengalami peningkatan mengingat ada banyak tradisi di
dalamnya, antara lain sahur on the road,
buka bersama, takjilan, baju baru, Tunjangan Hari Raya (THR), mudik, dan
fitrah. Setiap tradisi tersebut mempunyai sesuatu yang khas. Kekhasan
tersebutlah yang mendorong masyarakat untuk bisa menangkap peluang
berwirausaha.
Sahur
on the Road, Takjilan, dan Buka
Bersama
Sebenarnya, sahur on the road, takjilan, dan buka bersama
(buber) tidak jauh beda dengan makan bersama pada umumnya. Yang membedakan adalah
tentang waktu, tempat, dan hidangan. Sahur
on the road jelas pada waktu jelang Subuh di jalan, takjilan jelang Maghrib
di masjid, dan buber jelang Maghrib di rumah, restoran, atau sejenisnya.
Tentang hidangan, jelas ada yang
khas dalam ketiga kegiatan tersebut, yaitu kurma dan kolak. Hidangan yang khas
tersebut mendorong para produsen dan pedagang baik yang sudah ada maupun yang baru
memulai berdagang mulai melakukan penawaran terhadap calon konsumen. Biasanya, promo
kurma dilakukan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan. sedangkan kolak rutin
dijajakan rutin setiap sore di pinggiran sepanjang jalan.
Baju
Baru
Kalau kita ingat lagu yang dibawakan
Dea Ananda, salah satu personel trio kwek-kwek di era-90an, kita pasti
mengiyakan lirik yang dibawakannya. Sepenggal lirik tersebut adalah:
“Baju baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari
raya.”
Dalam lirik tersebut benar
menunjukkan memang ada kebiasaan masyarakat Indonesia mengenakan baju baru di
hari raya, Idul Fitri. Makna “baju” di sini tidak sebatas pada baju saja,
melainkan meluas menjadi berbagai macam sandang. Misalnya, celana, rok, sepatu,
sandal, kerudung, peci, dan sebagainya. Dari sinilah, muncullah banyak penjual
pakaian. Apalagi, di era olshop seperti sekarang ini. Cukup berbekal handphone
dan kuota internet, semua kalangan bisa berjualan pakaian.
Tunjangan
Hari Raya
Tunjangan Hari Raya (THR)
tidak selalu berbentuk cash money.
Ada beberapa perusahaan yang memilih memberikan parcel kepada karyawan dan
kliennya. Parcel tersebut biasanya berisi kebutuhan pokok dan pelengkap yang
biasanya digunaka pada bulan Ramadhan dan hari raya. Melihat tradisi ini, muncullah
jasa pembuatan parcel. Jasa tersebut pun tidak terbatas hanya membuatkan saja,
melainkan dari mulai pembelian bahan hingga pengantaran ke alamat yang dituju.
Fitrah
“Fitrah” memang berasal dari
Bahasa Arab yang salah satu artinya adalah keadaan yang suci. Namun, ada
pergeseran makna dalam momen lebaran di Indonesia. Pada saat lebaran, ada
tradisi bagi-bagi fitrah (uang saku) kepada anak-anak, baik anak sendiri, keponakan, cucu,
anak tetangga, maupun anak kerabat, khususnya anggota keluarga lainnya yang belum
bekerja. Biasanya, fitrah dibagikan berupa uang yang baru dicetak baik langsung
maupun dikemas dalam bentuk amplop. Dari tradisi ini, ada peluang untuk membuka
jasa penukaran uang baru. Ini bisa dilihat di pinggir-pinggir jalan raya banyak
orang yang membuka jasa penukaran uang baru.
Mudik
Mudik memang menggembirakan, tetapi
juga melelahkan. Menggembirakan karena bertemu dengan keluarga, terutama ayah
dan ibu yang telah lama berpisah untuk urusan tertentu di tempat perantauan.
Sebaliknya, dikatakan
melelahkan karena munculnya masalah
yang ditimbulkannya dari proses mudik tersebut –menjelang dan sesudah
lebaran—selalu sama: kemacetan dan kecelakaan lalu lintas. Dari kondisi ini,
masyarakat juga bisa menyediakan solusi dengan menjual barang atau jasa untuk
mendukung kelancaran dan kenyamanan pemudik.
Berbicara tentang mudik, pemerintah
pun juga punya tradisi berbenah tentang infrastruktur yang biasa dilalui pemudik.
Sebut saja, jalan tol atau bukan tol yang diperbaiki khusus untuk mempersiapkan
momen mudik. Dengan adanya perbaikan, wajarnya akan menimbulkan kemacetan yang
panjang dan berjam-jam. Kondisi yang membosankan ini, jelas memunculkan ide kreatif
para remaja di sekitar jalan tersebut untuk menyediakan jalan alternatif dengan
tarif tertentu.
Berdasarkan tradisi-tradisi di
atas, Ramadhan memang secara tidak langsung membentuk fenomena sosial yang
mendorong masyarakat untuk melihat dan merespon peluang usaha yang ada. Kondisi
inilah yang memunculkan banyak penjual dadakan. Bukan hanya dari kalangan
dewasa, melainkan anak-anak dan remaja. Apalagi, kewirausahaan sudah menjadi
mata pelajaran dan mata kuliah dalam proses pembelajaran di sekolah maupun
kampus. Lebih-lebih jika Ramadhan ini dijadikan momen penilaian proses
pembelajaran oleh guru maupun di dosen yang berdampak akan lebih banyak lagi
yang menjadi penjual dadakan.
Dengan adanya momen ini,
harapannya berwirausaha tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja. Sebaiknya
juga dilakukan dengan menganut prinsip going
concern yang menyatakan bahwa unit usaha dapat tetap beroperasi dalam jangka waktu ke depan. Jika memang benar-benar
terjadi, maka akan membantu pembangunan Indonesia, terutama dalam mengurangi pengangguran
dan mendukung pembangunan ekonomi. Ini sejalan dengan apa yang telah dikatakan
oleh salah satu tokoh ekonomi, Schumpeter, bahwa pengusaha merupakan inovator yang menjadi tokoh dalam mendorong pembangunan ekonomi.
(Helti Nur Aisyiah)
(Helti Nur Aisyiah)
Subscribe to:
Posts (Atom)