Judul kali ini mengarah pada kamu hawa yang 'nyambi', Ibu rumah tangga sambil kerja. Kerja, entah kantoran, mengajar, atau jualan, bukan lagi hal yang mustahil selama ada asisten. Ngomong-ngomong tentang asisten, ini makhluk yang paling istimewa. Secara garis wewenang sih dia bawahan, tapi prakteknya malag sebaliknya. Harusnya kita yang ngatur, malah kadang kita yang diatur. Tidak secara eksplisit sih, tapi pastinya pahamlah maksud dari kalimat yang dia lontarkan. Lhawong tiap hari berdamai dengan polah tingkahnya.
Asisten itu sebuah dilema tersendiri. Dihalusi, menyepelekan. Dikasari, eeee kabur. Nah lo, serba salah bukan... Kalau lagi nggak ingat kalau rumah itu bukan perusahaan yang dengan gampang cari karyawan, bisa kecolongan kita. So, hati-hati deh sama yang namanya asisten. Apalagi, kalau kitanya udah klik & klop sama dia. Mendingan ngalah dari pada kita musti door to door lagi, nyariiiii lagi. Mangkenye, koe kudu setrong alias kamu harus kuat. Kuat nahan emosi pas si dia nggak sesuai dengan keinginanmu.
Sunday, 11 December 2016
Sunday, 4 December 2016
USBN: Formalitas atau Solusi
Kebijakan berubah itu hal yang biasa. Apalagi, perubahan tersebut setelah adanya perubahan pemegang wewenang. Perubahan identik dengan hal yang belum ada sebelumnya atau hasil modifikasi kebijakan sebelumnya. Apapun itu, pasti ada pro kontra terkait suatu yang baru tersebut. Baru itu seru, responsif, dan kadang masif. Apalagi, ini menyangkut hajat hidup orang banyak, banyak kalangan. Sebut saja ujian nasional (UN). Tidak hanya siswa saja yang berkepentingan. Banyak stakeholder yang menyertainya: personal dari keluarga, sekolah, bimbel, perguruan tinggi, dan pemangku bisnis di lingkungan pendidikan (misalnya, penerbit buku pelajaran).
Orang tua. Pihak yang paling berempati terhadap siswa. Dengan dihapuskannya UN, ada kelegaan di sana, terutama bagi orang tua yang anaknya termasuk kategori pemilik kecerdasan otak kanan. Mengingat mapel-mapel yang diujikan selama UN ada daerah otak kiri, siswa yang cenderung otak kanan kadang merasa tertekan. Kalau USBN, benar-benar diterapkan, siswa tidak lagi terpacu pada mapel-mapel tertentu. Siswa akan cenderung memaksimalkan hasil tes yang diminatinya. Apalagi, jika hasilnya nanti sebagai pemetaan masuk perguruan tinggi.
Di sekolah, proses pembelajaran semester gasal hampir usai. Persiapan-persiapan kelulusan sudah disusun dengan asumsi masih dibelakukannya UN. Serius? Iya. Bayangkan saja, sampai detik ini sudah ada uji coba UN sebanyak dua kali putaran. Aturan main masih sama, mapel khusus UN, dikerjakan di lab komputer, dan ada shift-shift-an. Ribet nggak kira-kira? Jangan tanya. Jawaban tersirat dengan kita melihat mimik tim kurkulum sekolah. Pasti mereka kemrungsung, grusa-grusu antara tugas akademik dan mengajar. Wah, kalau tiba-tiba USBN benar-benar deal, bisa gayeng pol ini. Sistem yang sudah didesain sedemikian hingga dengan seketika harus berubah. Jadwal kurikulum yang sudah disesuaikan dengan agenda kesiswaan bisa amburadul. Kalau sudah begini, mau ngapain. Sekolah hanya ngikut aturan dinas pendidikan kotamadya/ kabupaten. Dinas setempat manut dinas pendidikan propinsi. Dan, propinsi mutlak patuh kepada kemendiknas pusat. Ini baru satu stakeholder.
Bimbel. Salah satu mitra terdekat sekolah. Ada yang bilang keberadaannya sangat membantu dalam pencapaian tujuan sekolah, yakni nilai tertinggi UN mengingat sekarang brosur-brosur bimbel menayangkan daftar siswa peraih nilai UN tertinggi. Namun, ada juga yang tidak suka dengan keberadaan bimbel. Mungkin karena merasa ada pesaing calon pendaftar les privatnya, pernah ditolak saat melamar pekerjaan sebagai tutor bimbel, bahkan ada juga yang sinis dengan metode cepat ala bimbel. Ada saja alasan untuk menolak bimbel. Terlepas dari menerima atau menolak keberadaan bimbel, sekolah dan bimbel secara tidak langsung memiliki visi yang sama. Dengan demikian, kebijakan pusat yang menggoyahkan internal sekolah, bisa berdampak ke sistem akademik bimbel juga. Misalnya, jika USBN resmi dilaksanakan, maka bimbel juga harus menyediakan tutor-tutor mapel selain UN. Parahnya lagi, jika customer bimbel ada siswa pondok atau sekolah Islam terpadu, bisa jadi akan ada perekrutan guru-guru mapel agama. Di satu sisi, biaya operasional harus dianalisis ulang. Di sisi lain, ada angin segar bagi lulusan perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama. Peluang pekerjaan akan semakin luas walaupun nanti juga berdampak ke jadwal mengajar tutor-tutor UN.
Stakeholder selanjutnya adalah perguruan tinggi. Tim seleksi penerimaan mahasiswa, khususnya jalur undangan harus berpikir lebih keras lagi. Sebaiknya, poin-poin penilaian juga diperluas dari yang hanya beberapa mapel menjadi semua mapel. Itu baru tentang mapel, belum jika sekolah pendaftar ada banyak jenis: sekolah negeri, sekolah berbasis agama, sekolah kejar paket, bahkan pondok pesantren. Sistem harus diubah dan pastinya akan banyak anggaran.
Yang terakhir, pemegang kekuasaan bisnis di lingkungan pendidikan. Pernah suatu kali saya mendengar suatu percetakan rugi besar akibat pemberlakukan kurikulum 2013 yang mana di sana ada mapel wajib dan minat. Kurikulum disahkan setelah buku dicetak dan siap untuk didistribusikan. Alhasil, banyak penolakan. Dari yang awalnya langganan menjadi berpikir ulang. Kalau sudah begini, laba perusahaan menjadi taruhan. Padahal, di sana banyak karyawan yang juga dipikirkan tentang insentifnya.
Lantas, apakan USBN pas untuk dijalankan? Saya yakin orang-orang pemangku jabatan lebih paham tentang output dan outcome. Saran saya, keputusan jadi tidaknya sebaiknya dalam waktu dekat ini, sehingga para siswa lebih siap dari materi maupun psikologi.
Orang tua. Pihak yang paling berempati terhadap siswa. Dengan dihapuskannya UN, ada kelegaan di sana, terutama bagi orang tua yang anaknya termasuk kategori pemilik kecerdasan otak kanan. Mengingat mapel-mapel yang diujikan selama UN ada daerah otak kiri, siswa yang cenderung otak kanan kadang merasa tertekan. Kalau USBN, benar-benar diterapkan, siswa tidak lagi terpacu pada mapel-mapel tertentu. Siswa akan cenderung memaksimalkan hasil tes yang diminatinya. Apalagi, jika hasilnya nanti sebagai pemetaan masuk perguruan tinggi.
Di sekolah, proses pembelajaran semester gasal hampir usai. Persiapan-persiapan kelulusan sudah disusun dengan asumsi masih dibelakukannya UN. Serius? Iya. Bayangkan saja, sampai detik ini sudah ada uji coba UN sebanyak dua kali putaran. Aturan main masih sama, mapel khusus UN, dikerjakan di lab komputer, dan ada shift-shift-an. Ribet nggak kira-kira? Jangan tanya. Jawaban tersirat dengan kita melihat mimik tim kurkulum sekolah. Pasti mereka kemrungsung, grusa-grusu antara tugas akademik dan mengajar. Wah, kalau tiba-tiba USBN benar-benar deal, bisa gayeng pol ini. Sistem yang sudah didesain sedemikian hingga dengan seketika harus berubah. Jadwal kurikulum yang sudah disesuaikan dengan agenda kesiswaan bisa amburadul. Kalau sudah begini, mau ngapain. Sekolah hanya ngikut aturan dinas pendidikan kotamadya/ kabupaten. Dinas setempat manut dinas pendidikan propinsi. Dan, propinsi mutlak patuh kepada kemendiknas pusat. Ini baru satu stakeholder.
Bimbel. Salah satu mitra terdekat sekolah. Ada yang bilang keberadaannya sangat membantu dalam pencapaian tujuan sekolah, yakni nilai tertinggi UN mengingat sekarang brosur-brosur bimbel menayangkan daftar siswa peraih nilai UN tertinggi. Namun, ada juga yang tidak suka dengan keberadaan bimbel. Mungkin karena merasa ada pesaing calon pendaftar les privatnya, pernah ditolak saat melamar pekerjaan sebagai tutor bimbel, bahkan ada juga yang sinis dengan metode cepat ala bimbel. Ada saja alasan untuk menolak bimbel. Terlepas dari menerima atau menolak keberadaan bimbel, sekolah dan bimbel secara tidak langsung memiliki visi yang sama. Dengan demikian, kebijakan pusat yang menggoyahkan internal sekolah, bisa berdampak ke sistem akademik bimbel juga. Misalnya, jika USBN resmi dilaksanakan, maka bimbel juga harus menyediakan tutor-tutor mapel selain UN. Parahnya lagi, jika customer bimbel ada siswa pondok atau sekolah Islam terpadu, bisa jadi akan ada perekrutan guru-guru mapel agama. Di satu sisi, biaya operasional harus dianalisis ulang. Di sisi lain, ada angin segar bagi lulusan perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agama. Peluang pekerjaan akan semakin luas walaupun nanti juga berdampak ke jadwal mengajar tutor-tutor UN.
Stakeholder selanjutnya adalah perguruan tinggi. Tim seleksi penerimaan mahasiswa, khususnya jalur undangan harus berpikir lebih keras lagi. Sebaiknya, poin-poin penilaian juga diperluas dari yang hanya beberapa mapel menjadi semua mapel. Itu baru tentang mapel, belum jika sekolah pendaftar ada banyak jenis: sekolah negeri, sekolah berbasis agama, sekolah kejar paket, bahkan pondok pesantren. Sistem harus diubah dan pastinya akan banyak anggaran.
Yang terakhir, pemegang kekuasaan bisnis di lingkungan pendidikan. Pernah suatu kali saya mendengar suatu percetakan rugi besar akibat pemberlakukan kurikulum 2013 yang mana di sana ada mapel wajib dan minat. Kurikulum disahkan setelah buku dicetak dan siap untuk didistribusikan. Alhasil, banyak penolakan. Dari yang awalnya langganan menjadi berpikir ulang. Kalau sudah begini, laba perusahaan menjadi taruhan. Padahal, di sana banyak karyawan yang juga dipikirkan tentang insentifnya.
Lantas, apakan USBN pas untuk dijalankan? Saya yakin orang-orang pemangku jabatan lebih paham tentang output dan outcome. Saran saya, keputusan jadi tidaknya sebaiknya dalam waktu dekat ini, sehingga para siswa lebih siap dari materi maupun psikologi.
Double Profesi: Pegawai dan Pengusaha
Pegawai dan pengusaha bukan seperti dua sisi mata uang. Kata orang, pegawai yo pegawai, pengusaha yo pengusaha wae. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Nyatanya, banyak di kalangan kami yang memilih untuk menjalankan dua profesi. Capek? Pasti. Kenapa dilanjutkan? Ini masalah hati. Satu hati sebagai pegawai, kami ingin memanfaatkan ijazah yang kami perjuangkan dengan susah payah. Satu hati sebagai pengusaha yang ingin hidup layak untuk masa tua nanti. Menjadi pegawai itu salah satu wujud berbakti kepada orang tua. Menjadi pengusaha itu salah satu wujud tanggung jawab kepada anak istri. Apakah pegawai tidak bisa kaya? Bisa. Kembali lagi, ini masalah hati. Hati yang tidak kuasa menolak jika sang anak membutuhkan perhatian lebih. Misalnya, biaya pendidikan yang semakin dahsyat. Pendidikan murah bahkan gratis itu banyak, tapi ini soal tanggung jawab seorang tua terhadap titipan anak dari Sang Ilahi. Anak harus berkualitas. Kalau boleh mengutip iklan salah satu bank yang sering diputar di radio, kalimat "Jangan menunggu mampu! Mari memampukan diri" penikmat double profesi, pegawai dan pengusaha.
Helti Nur Aisyiah
Dosen Akuntansi Syari'ah & Owner Toko Jual-Beli Handphone
Helti Nur Aisyiah
Dosen Akuntansi Syari'ah & Owner Toko Jual-Beli Handphone
Friday, 2 December 2016
Intrik Mencontek
Mencontek itu hal yang biasa bagi siswa maupun mahasiswa. Itu kata dia yang belum mengerti artinya kepuasan batin. Mencontek itu hal yang lumrah. Jika hasilnya nanti bagus, senengnya itu tak sebahagia jika murni dia kerjakan sendiri. Nah, mencontek itu pun butuh seni. Bagaimana agar efisien: mempertimbangan biaya dan manfaat. Bagaimana agar tidak boros dan bermanfaat saat ujian berlangsung. Ya ini, seni yang dimaklumkan. Padahal?
Tes itu sebenarnya untuk apa sih? Kalau hanya untuk formalitas mending ndak usah aja. Yang pinter beneran, belahar mati-matian. Pengawas juga harus datang on time. Mubadzir kan kalau disia-siakan. Okelah, ini bukan untuk menghakimi sang pencontek. Tulisan imo hanya untuk memperlihatkan betapa nyeninya orang yang mencontek.
Selama beberapa hari ini, ada tiga teknik mencontek yang di luar prediksi pengawas. Ketiga teknik tersebut pastinya di luar kode-kodean tangan antarpeserta dalam berkomunikasi jawaban pilgand lho ya. Pertama, selembar kertas berbahasa korea terjatuh dari kolong meja. Kedua, ada dua bendel soal di atas meja. Ketiga, ada lembar oret2an yang berisi dialog.
Yuk, kita kupas satu-satu. Pertama, bahasa korea. Luar biasa cerdasnya anak ini sampai-sampai contekan ditulis dengan bahasa korea yang notabene jarang sekali orang Indonesia mempelajarinya. Kedua, dua bendel soal dengan tahun ajaran yang berbeda. Soal tahun lalu yang sudah diberi jawaban dan materi tambahan diletakkan di bawah soal hari-H dan sesekali si peserta tes membuka-bukanya. Ketiga, lembar oret-oretan mata pelajaran atau mata kuliah eksak bukannya diisi oleh angka-angka, malah kata-kata yang tidak lain adalah media komunikasi antarpeserta tes.
Wah wah wah, makin kreatif saja generasi bangsa saat ini. Harusnya sibuk memahami materi, malah sibuk menyusun strategi. Kalau sudah begini, pengawas harus makin jeli. Periksa satu-satu dan pastikan semua jujur. Kalau ini dibiarkan, lama-lama terbitlah buku 1001 cara mencontek. Lantas, mau jadi apa negara kita kelak? Stop kecurangan! Mari berbenah.
Tes itu sebenarnya untuk apa sih? Kalau hanya untuk formalitas mending ndak usah aja. Yang pinter beneran, belahar mati-matian. Pengawas juga harus datang on time. Mubadzir kan kalau disia-siakan. Okelah, ini bukan untuk menghakimi sang pencontek. Tulisan imo hanya untuk memperlihatkan betapa nyeninya orang yang mencontek.
Selama beberapa hari ini, ada tiga teknik mencontek yang di luar prediksi pengawas. Ketiga teknik tersebut pastinya di luar kode-kodean tangan antarpeserta dalam berkomunikasi jawaban pilgand lho ya. Pertama, selembar kertas berbahasa korea terjatuh dari kolong meja. Kedua, ada dua bendel soal di atas meja. Ketiga, ada lembar oret2an yang berisi dialog.
Yuk, kita kupas satu-satu. Pertama, bahasa korea. Luar biasa cerdasnya anak ini sampai-sampai contekan ditulis dengan bahasa korea yang notabene jarang sekali orang Indonesia mempelajarinya. Kedua, dua bendel soal dengan tahun ajaran yang berbeda. Soal tahun lalu yang sudah diberi jawaban dan materi tambahan diletakkan di bawah soal hari-H dan sesekali si peserta tes membuka-bukanya. Ketiga, lembar oret-oretan mata pelajaran atau mata kuliah eksak bukannya diisi oleh angka-angka, malah kata-kata yang tidak lain adalah media komunikasi antarpeserta tes.
Wah wah wah, makin kreatif saja generasi bangsa saat ini. Harusnya sibuk memahami materi, malah sibuk menyusun strategi. Kalau sudah begini, pengawas harus makin jeli. Periksa satu-satu dan pastikan semua jujur. Kalau ini dibiarkan, lama-lama terbitlah buku 1001 cara mencontek. Lantas, mau jadi apa negara kita kelak? Stop kecurangan! Mari berbenah.
Monday, 7 November 2016
Takut Berbicara
Hati ini bergitu rapuh. Sangat
amat sensitif dengan gejolak yang muncul dari orang sekitar. Rasanya ingin
mengutarakan kepada semua orang bahwa hati ini sedang sakit. Namun, tak semudah
itu mengutarakannya. Kita harus paham di mana dan sebagai apa kita berada. Kadang, menceritakan kesulitan kita akan
menjadi suasana menjadi pelik. Walaupun demikian, memang rasanya perlu
diceritakan. Dengan bercerita, plong rasanya. Dengan benda mati saja sudah
terasa ringannya. Apalagi, di hadapan makhluk yang responsif. Ada kan yang
sering berbicara sendiri di depan cermin atau di depan benda lain? Pasti ada.
Itulah hebatnya berbicara. Mengurangi perasaan yang dianggap menjadi beban
pikiran.
Jika posisimu sebagai anak, maka
ceritakan kepada orang tuamu. Itu solutif.
Jika posisimu sebagai istri, maka
ceritakan kepada suami. Itu solutif.
Namun, kadang kita enggan
menceritakan kepada orang tua maupun suami dengan dalih takut akan terjadi
sesuatu. Lebih baik dipendam saja. Kita lupa sampai kapan akan memendam? Akan banyak
lagi masalah yang datang. Apakah menunggu hingga penuh dan kemudian kita jatuh?
Silakan! Itu pilihan.
Ketakutan bercerita tentang
masalah kepada orang tua atau suami bisa diatasi dengan pemilihan kata, tinggi
rendah suara, ekspresi, dan waktu yang tepat. Setiap masalah ada solusi.
Masalahnya, bagaimana kita bisa merealisasikannya? Ngomong sih mudah. Bagaimana
jika setelah bercerita, hubungan kita jadi semakin runyam? Kembali lagi ke
solusi awal: kata, suara, ekspresi, dan waktu.
Friday, 9 September 2016
Tubuhku bukan Robot
Hidup adalah perjuangan. Memang.
Banyak sekali yang menggunakan alibi ini ketika sedang bekerja, belajar, atau
sedang mengupayakan sesuatu. Namun, kadang kita lupa bahwa perjuangan itu ada
batasnya, seperti waktu yang hanya dibatasi 24 jam sehari. Tidak lebih.
Alangkah baiknya dalam menyikapi
sesuatu itu tidak berkenan. Ala kadarnya saja, jangan muluk-muluk. Sebenarnya,
yang kita kejar itu apa? Uang? Uang kadang bisa membeli kesehatan. Kebebasan,
dan kebahagiaan. Terlena kita pada uang hingga lupa hakikat hidup yang
sebenarnya.
Mari kita buka kembali Q.S.
Adz-Dzariyat ayat 56. Di sana disebutkan yang artinya kurang lebih bahwa
sebagai makhluk Tuhan tidak lain hanyalah untuk beribadah. Dengan dasar inilah,
seharusnya para pendamba harta dan kekuasaan bercermin. Yang kita kejar tidak
lain hanyalah “bekal” untuk kehidupan yang “lain”. Zuhud-lah, bersyukurlah.
Duniamu akan indah.
Tuesday, 16 August 2016
Sukses Butuh Proses
“Jangan
lihat aku sekarang! Lihatlah aku dari sekarang hingga aku lelah menata masa
depan.” Penilaian terhadap sekarang sering dilakukan sesaat tanpa melibatkan
peranan masa lalu dan masa depan. Padahal, masa lalu, masa sekarang, dan masa
depan adalah rangkaian yang tidak terpisahkan. Kita bisa menjadi yang sekarang
karena masa lalu dan masa depan ditentukan oleh kita yang sekarang.
Diremehkan
orang itu biasa. Bahkan, kadang orang lain ketika meremehkan kita, dia tidak
sadar sedang melakukannya. Asal njeplak begitu saja. Asal berkomentar tanpa teding aling-aling. Begitulah orang Jawa
mengatakan. Padahal, kita yang sekarang terbentuk dari benturan dari kita di
masa lalu. Memang perjuangan tidak perlu diceritakan, tetapi begitulah keadaan.
Sering orang sekitar melakukan judgement
atas apa yang dia lihat sekarang tanpa melibatkan perasaan. Anggap saja ujian.
Tenang!
Allah tidak tidur. Berdo’alah, maka akan Aku kabulkan. Kira-kira seperti itulah
terjemahan dari salah satu ayat dalam Al-Qur’an. Berdo’alah, berdo’alah, dan
berdo’alah. Bukankah dunia milik Tuhan? Mengapa kita seakan menjadi korban
perasaan atas komentar orang. Jika kita tidak yakin akan do’a yang akan
dikabulkan, ingatlah sosok ibu. Do’a ibu tanpa sekat menuju Tuhan. Bisa
dibuktikan.
Sesungguhnya
hinaan dan cercaan bagai pengasah pisau. Semakin banyak diasah, semakin
runcing. Sebaliknya, menyerahlah dengan pujian. Kadang pujian membuat diri kita
terlena dan tidak termotivasi untuk berlari mengejar mimpi. Atau, hanya sekedar
balas dendam terhadap orang yang menyepelekan capaian hidup kita. Balas dendam
yang terbaik bisa dilakukan dengan cara membentuk diri kita menjadi yang
terbaik di mata mereka hingga tidak ada lagi kata yang mewakili untuk
meremehkan kita lagi. Terakhir kali, memang sukses butuh proses. Bersabarlah!
Subscribe to:
Posts (Atom)